NEEDS AND WANTS
Perkembangan teknologi dan kebudayaan yang berkembang sangat cepat, menyebabkan timbulnya kebutuhan manusia yang beraneka ragam. Namun kebutuhan akan suatu tempat tinggal tidak terlalu berubah. Kebutuhan di dalam tempat tinggal biasanya berupa dapur, kamar mandi, kamar tidur, ruang tamu, dan juga ruang keluarga. Tetapi belakangan ini sering orang menambahkan wants ke dalam tempat tinggalnya, seperti kolam renang. Pada dasarnya kolam renang merupakan wants sang pemilik. Wants tersebut menjadi needs. Tetapi setelah beberapa lama kolam renang tersebut jarang digunakan dan tidak menjadi needs melainkan wants. Walaupun sudah jarang digunakan, tetapi masih diperlukan biaya dan perhatian khusus terhadap kolam renang tersebut. Needs dan Wants memang tidak dapat dipisahkan. Tetapi kita dapat memilih mana yang terlebih dahulu kita utamakan. Temtunya dengan konsekuensi dari masing-masing yang kita utamakan. Berikut ini akan diulas contoh bangunan yang lebih mengutamakan needs dan juga contoh bangunan yang lebih mengutamakan wants.
Perkembangan teknologi dan kebudayaan yang berkembang sangat cepat, menyebabkan timbulnya kebutuhan manusia yang beraneka ragam. Namun kebutuhan akan suatu tempat tinggal tidak terlalu berubah. Kebutuhan di dalam tempat tinggal biasanya berupa dapur, kamar mandi, kamar tidur, ruang tamu, dan juga ruang keluarga. Tetapi belakangan ini sering orang menambahkan wants ke dalam tempat tinggalnya, seperti kolam renang. Pada dasarnya kolam renang merupakan wants sang pemilik. Wants tersebut menjadi needs. Tetapi setelah beberapa lama kolam renang tersebut jarang digunakan dan tidak menjadi needs melainkan wants. Walaupun sudah jarang digunakan, tetapi masih diperlukan biaya dan perhatian khusus terhadap kolam renang tersebut. Needs dan Wants memang tidak dapat dipisahkan. Tetapi kita dapat memilih mana yang terlebih dahulu kita utamakan. Temtunya dengan konsekuensi dari masing-masing yang kita utamakan. Berikut ini akan diulas contoh bangunan yang lebih mengutamakan needs dan juga contoh bangunan yang lebih mengutamakan wants.
Bangunan yang lebih mengedepankan wants
Gaya baroque ini pernah mengalami masa kejayaannya pada awal abad ke 19. banyaknya detail-detail yang terdapat pada bangunan ini melambangkan estetika yang tinggi. Pada zaman baroque, model seperti itu biasanya digunakan pada gedung-gedung pertunjukan. Memang, pada zaman sekarang pun bangunan seperti masih sering kita jumpai. Namun hal tersebut sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan kebudayaan, terutama di indonesia. Rumah bergaya baroque dapat ditemukan di jalan cipaganti. Rumah ini sangat menekankan pada wants sang pemilik yang ingin menunjukan kemegahan, dan kekayaannya. Tetapi tentunya akan ada berbagai macam konsekuensi yang harus ditanggung sang pemilik. Misalnya, perawatan rumah yang tentunya tidak sedikit. Terlebih lagi rumah bergaya baroque ini dipenuhi dengan detail-detail ukiran yang berlekuk-lekuk. Hal tersebut tentunya memerlukan perhatian extra. Wants sang pemilik yang menginginkan rumah bergaya baroque ini tidak sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Gaya baroque berkembang pesat sekitar abad ke 19 di benua eropa. Hal tersebut tidak sesuai dengan keadaan dan kebudayaan di indonesia. Pada zaman baroque polusi pencemaran udara tidak sebesar sekarang ini, sehingga perawatan bangunan pun tidak terlalu menjadi masalah. Berbeda dengan kota bandung saat ini yang penuh dengan polusi. polusi yang tinggi akan meningkatkan biaya perawatan eksterior bangunan.
Pada bagian atap bangunan terdapat sebuah paviliun. Fungsi dari pawiliun itu sendiri sebagai tempat alternatif istirahat. Namun bila diletakkan pada bagian atap rumah tinggal yang berlantai dua rasanya fungsi paviliun tadi kurang dapat dimaksimalkan. Padahal jika kita membangun paviliun itu untuk tempat santai dan beristirahat, seharusnya kita memilih tempat yang sesuai untuk suasana santai itu sendiri. Seperti misalnya taman, hijaunya rerumputan dan tanam-tanaman akan menciptakan suasana damai yang mendukung kita untuk bisa menikmatinya. Dengan begitu jelas terlihat konsep needs disini tidak berlaku karena yang dibutuhkan untuk tempat bersantai sendiri adalah tempat yang mendukung suasana santai. Pemilik berkeinginan membuat sebuah paviliun di atap rumahnya, jelas itu menegaskan bahwa lebih diutamakannya wants ketimbang needs. Apalagi setelah didirikan paviliun itu mungkin hanya akan dibiarkan begitu saja tanpa dipakai. Fungsinya disini sudah berubah.
Pada bagian atap bangunan terdapat sebuah paviliun. Fungsi dari pawiliun itu sendiri sebagai tempat alternatif istirahat. Namun bila diletakkan pada bagian atap rumah tinggal yang berlantai dua rasanya fungsi paviliun tadi kurang dapat dimaksimalkan. Padahal jika kita membangun paviliun itu untuk tempat santai dan beristirahat, seharusnya kita memilih tempat yang sesuai untuk suasana santai itu sendiri. Seperti misalnya taman, hijaunya rerumputan dan tanam-tanaman akan menciptakan suasana damai yang mendukung kita untuk bisa menikmatinya. Dengan begitu jelas terlihat konsep needs disini tidak berlaku karena yang dibutuhkan untuk tempat bersantai sendiri adalah tempat yang mendukung suasana santai. Pemilik berkeinginan membuat sebuah paviliun di atap rumahnya, jelas itu menegaskan bahwa lebih diutamakannya wants ketimbang needs. Apalagi setelah didirikan paviliun itu mungkin hanya akan dibiarkan begitu saja tanpa dipakai. Fungsinya disini sudah berubah.
Bangunan yang lebih mengedepankan needs
Foto Gedung Sate
Gedung sate sebagai pusat pemerintahan kota bandung sudah menjadi ikon yang tidah dapat dipisahkan dari kota bandung serta masyarakat kota bandung. Gedung sate di design dan dibuat untuk tujuan tertentu yang jangka panjang. Di puncaknya terdapat "tusuk sate" dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden - jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate. Kebutuhan akan suatu identitas menjadikan gedung sate sebagai needs masyarakat bandung dan jawa barat. Fungsi gedung sate sebagai pusat pemerintahan kota bandung, menuntut suatu bentukan y Di puncaknya terdapat "tusuk sate" dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden - jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate. ang mencerminkan kebudayaan kota bandung tersebut, oleh karena itu disain gedung sate yang berbeda dengan gedung-gedung lainnya, tentunya dengan mengedepankan kebudayaan sekitar. Karena gedung sate merupakan needs kota bandung, dapat dibayangkan apa yang terjadi jika gedung sate dihancurkan. Tentunya kota bandung akan kehilangan ikonnya. Terlebih lagi, lambang pemerintahan jawa bawat memuat gedung sate di dalamnya. Dengan demikian Masyarakat kota bandung dan jawa barat lebih menegaskan bahwa gedung sate merupakan needs bukan sekedar wants.
Need dan wants memang tidak dapat terpisahkan tetapi kita dapat memilih mana yang lebih kita dahulukan. Apakah needs yang kemudian menjadi wants atau wants yang kemudian menjadi needs. Jika kita mengutamakan wants terlebih dahulu daripada needs, maka ia harus benar- benar mempertimbangkan segala kemungkinan atau resiko yang harus dihadapi. Untuk mengurangi tingkat resiko tersebut kita harus secara kritis memikirkan alternatifnya, bukan dengan cara dihindari namun dengan cara mencari solusinya.
^_^
No comments:
Post a Comment